Karena itu, kolaborasi antara terapis wicara dan fisioterapis dinilai memiliki peran strategis. Fisioterapis berfokus pada optimalisasi fungsi gerak, postur, keseimbangan dan kontrol motorik, sedangkan terapis wicara menangani berbagai aspek, termasuk komunikasi, bicara, makan dan menelan.
“Ketika kedua profesi ini dikolaborasikan, kita dapat melihat kondisi anak secara lebih utuh. Postural control yang lebih baik dapat menjadi pondasi bagi optimalisasi fungsi oral motor, feeding, dan produksi bicara,” kata Hikmatun.
Workshop nasional tersebut sekaligus menjadi bagian dari pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi tenaga terapis wicara.
Peserta memperoleh sertifikat sebagai bukti keikutsertaan dalam kegiatan ilmiah dan pengembangan kompetensi profesional. Namun, Hikmatun menegaskan bahwa hasil workshop diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teori.
“Kami berharap tenaga kesehatan terapis wicara di Kota Pekanbaru tidak hanya berhenti pada peningkatan keilmuan, tetapi juga terjadi perubahan nyata dalam keterampilan klinis. Kami juga berharap ilmu tersebut dapat ditularkan kepada teman-teman sejawat lainnya,” tuturnya.
Hikmatun juga menyoroti masih terbatasnya jumlah tenaga terapis wicara di sejumlah daerah. Menurutnya, profesi tersebut belum sepenuhnya dikenal masyarakat, padahal kebutuhan terhadap tenaga profesional yang menangani gangguan komunikasi, bicara, serta fungsi makan dan menelan terus berkembang.
Ia pun mendorong generasi muda, khususnya lulusan SMA/SMK atau sederajat, untuk mengenal terapi wicara sebagai salah satu pilihan pendidikan dan karier di bidang kesehatan.
“Dengan semakin luasnya kebutuhan layanan dan semakin kompleksnya tantangan yang dihadapi anak berkebutuhan khusus, pemerataan kompetensi terapis wicara bukan lagi sekadar agenda pengembangan profesi,” katanya.
“Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan setiap anak, di mana pun mereka berada, memiliki kesempatan memperoleh layanan kesehatan yang bermutu dan sesuai kebutuhannya,” sambung Hikmatun.
Menurutnya, pendidikan terapis wicara dapat ditempuh melalui jalur pendidikan vokasi. Kolegium Terapis Wicara Pusat juga terus mendorong peningkatan kompetensi serta pemerataan tenaga profesional di berbagai wilayah Indonesia.
Melalui pelaksanaan workshop di Pekanbaru, diharapkan semakin banyak tenaga terapis wicara memperoleh akses terhadap perkembangan ilmu dan praktik terbaru, sekaligus memperkuat kolaborasi lintas profesi dalam memberikan pelayanan kepada anak berkebutuhan khusus. (RB)












