BerlayarInfo.com | Pekanbaru – Kolegium Terapis Wicara Indonesia bersama Rumah Sakit (RS) Andini Pekanbaru menggelar Workshop Nasional (Worknas) bertema “Postural Control terhadap Perkembangan Komunikasi, Feeding dan Produksi Bicara pada Anak Berkebutuhan Khusus”.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 3 RS Andini Pekanbaru, Minggu (16/8/2026), tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kompetensi dan wawasan profesional tenaga terapis wicara di Indonesia.
Workshop menghadirkan dua pemateri, yakni dr. Yohanes Purwanto, S.Ft., S.Ps., Ft., M.Kes., pakar fisioterapi sekaligus Ketua Perkumpulan Fisioterapi Anak Indonesia (PFAI), serta Pipit Puspita Sari, A.Md., T.D., M.Si., akademisi dan praktisi terapi wicara.
Ketua Kolegium Terapis Wicara Indonesia, Hikmatun Sadiah, A.Md.TW., M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga memperkuat kemampuan terapis wicara dalam memahami kondisi anak secara lebih menyeluruh.
“Pengembangan kompetensi terapis wicara tidak boleh hanya terpusat di satu titik. Kami ingin memastikan pengembangan profesi ini tersebar di seluruh Indonesia, termasuk di Provinsi Riau,” ujar Hikmatun.
Menurutnya, kebutuhan terhadap layanan terapi wicara di berbagai daerah terus mengalami perkembangan. Karena itu, pemerataan kompetensi tenaga profesional menjadi penting agar masyarakat di berbagai wilayah memperoleh layanan kesehatan yang berkualitas sesuai kebutuhan.
Dalam workshop tersebut, peserta mendapatkan pemahaman bahwa postural control tidak sekadar berkaitan dengan bagaimana posisi tubuh seorang anak.
Pengendalian postur berhubungan dengan kemampuan anak mempertahankan stabilitas tubuh, mengontrol kepala, mengoptimalkan fungsi rahang, mendukung kemampuan oral motor hingga membantu koordinasi berbagai sistem tubuh yang berkaitan dengan komunikasi, makan dan menelan (feeding), serta produksi bicara.
Hikmatun mengatakan pemahaman tersebut penting karena kondisi anak berkebutuhan khusus perlu dilihat secara komprehensif sebelum menentukan bentuk intervensi.
“Dengan pemahaman yang komprehensif, terapis wicara dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kesulitan anak secara lebih utuh. Dari sana, intervensi dapat disusun secara lebih tepat sesuai kebutuhan masing-masing pasien,” jelasnya.
Ia menambahkan, penanganan anak berkebutuhan khusus membutuhkan pendekatan multidisiplin. Terapis wicara tidak dapat bekerja sendiri karena kemampuan komunikasi, bicara, makan dan menelan dapat berkaitan dengan fungsi gerak, keseimbangan, postur dan kontrol motorik.






